KATA KUNCI  
      Kamis, 23 Mei 2013
Home Contact Us    
INFO GRADIEN
Serunya Menjadi Seorang Reporter
Jadi reporter itu memang seru. Ada saja kejadian yang bikin ketawa, stres, atau heboh. Nggak hanya profesinya saja yang asyik, tapi juga pengalaman dan...

Panduan Pintar Mengelola Keuangan agar Menjadi Kaya
Ada sebuah pernyataan bahwa 90% manusia di dunia memiliki kondisi keuangan rata-rata, sedangkan 10% manusia lainnya hidup dengan kondisi keuangan berlimpah....

Serunya Komik Band Koplak
Sesuai namanya, para personil D’tragedi Band, memang harus mengawali karier musiknya dengan susah payah. Perjuangan mereka untuk bisa mencapai kesuksesan...

The Lone Ranger Rides
Tempat yang dianggap indah dan terbuka belum tentu tempat yang paling bersahabat untuk dilalui. Inilah yang mewakili Ngarai Bryant, sebuah tempat yang...


   

Senin, 17 September 2012
Kegelisahan Seorang Seniman terhadap Nasib Bangsa

Tahun demi tahun berlalu, Indonesia sudah berganti presiden beberapa kali. Namun, regenerasi kepemimpinan ini tidak menghasilkan perubahan yang berarti bagi masyarakat di berbagai daerah. Taraf hidup mereka masih jauh berada di bawah garis “kesejahteraan”. Bahkan, kondisi ini masih dialami sebagian daerah kabupaten Bogor, yang letaknya tidak jauh dari ibukota Jakarta. Buruknya lagi, kondisi alamnya malah semakin rusak seiring bergulirnya ekonomi di Indonesia.


Hal ini ternyata menjadi sumber kegelisahan Acep Iwan Saidi ketika melihat kenyataan kampung halamannya belum tersentuh program pembangunan “pro rakyat”. Masyarakat tidak mengalami peningkatan ekonomi, tapi justru malah mendapatkan beban inflasi yang terus bertambah setiap tahun. Biaya pendidikan semakin tinggi lebih dari 33 kali lipat dibandingkan 22 tahun silam. Pada tahun 1990, ketika kurs dollar Rp 2.000, SPP di perguruan tinggi hanya Rp 60.000 per semester, tanpa pungutan biaya apa pun saat pertama kali masuk. Sedangkan sekarang, kurs dollar telah naik lima kali lipat, yaitu Rp 9.500. Semestinya, sewajarnya SPP hanya naik lima kali lipat juga, yaitu Rp 300.000 saja. Tapi faktanya, di universitas negeri saja mencapai Rp 2.000.000 per semester. Belum lagi ada tambahan biaya-biaya lainnya.

Pemerintah hanya lebih peduli terhadap kemajuan sepihak rakyat Indonesia dan pengusaha asing. Alih-alih menyejahterakan rakyat, justru semakin menyengsarakan rakyat. Pencapaian pemerintah pada peningkatan ekonomi makro tidak sebanding lurus dengan kemajuan ekonomi mikro. Peningkatan tersebut tidak mendongkrak sedikit pun kesejahteraan rakyat. Rakyat malah semakin terhimpit. Mereka dihimpit tidak hanya oleh ketimpangan kebijakan ekonomi, tapi juga oleh kemajuan teknologi yang tidak dapat mereka kejar.

Sampai kapan kah kondisi ini akan terus berlangsung? Inilah salah satu pertanyaan yang membuat Acep Iwan Saidi merasa geram, kesal, bahkan frustasi melihat kondisi bangsa ini. Pun demikian, ia bukanlah tipe pemurung. Ia telah menyampaikan aspirasinya ke Presiden agar pemerintah melihat kondisi riil masyarakat dengan mata kepalanya sendiri, bukan sekadar laporan di atas kertas. Ia berharap, penguasa dapat berempati pada persoalan rakyat bahwa masih banyak rakyat yang hidup dalam “kemiskinan”.

Kegelisahan  demi kegelisahan Acep Iwan Saidi ini kemudian ia tuangkan ke dalam jejaring sosial Facebook di kolom statusnya. Ia ingin berbagi kegelisahannya kepada siapa saja di dunia maya hingga mencapai 501 status. Status-statusnya yang menggelitik perilaku sosial dan politik ini telah disusun ke dalam sebuah buku “Surat Malam untuk Presiden”.

Buku terbitan Gradien Mediatama ini dibagi ke dalam delapan narasi. Mulai dari narasi kondisi kampung halaman penulis, pendidikan karakter, pemimpin yang berkarakter, koin untuk presiden, naratologi kekuasaan, matinya narasi, surat malam untuk presiden, hingga membangun negeri dari halaman belakang.

 



   
Selasa, 23 April 2013
Serunya Menjadi Seorang Reporter
Senin, 22 April 2013
Panduan Pintar Mengelola Keuangan agar Menjadi Kaya
Rabu, 17 April 2013
Serunya Komik Band Koplak
Rabu, 10 April 2013
The Lone Ranger Rides
Selasa, 2 April 2013
Kontes Foto ‘Me & My Pet’
INDEX INFO