Kegelisahan Seorang Seniman terhadap Nasib Bangsa

Tahun demi tahun berlalu, Indonesia sudah berganti presiden beberapa kali. Namun, regenerasi kepemimpinan ini tidak menghasilkan perubahan yang berarti bagi masyarakat di berbagai daerah. Taraf hidup mereka masih jauh berada di bawah garis “kesejahteraan”. Bahkan, kondisi ini masih dialami sebagian daerah kabupaten Bogor, yang letaknya tidak jauh dari ibukota Jakarta. Buruknya lagi, kondisi alamnya malah semakin rusak seiring bergulirnya ekonomi di Indonesia.

Sekapur Barus My Stupid Boss Fans' Stories

Sekapur Barus
My Stupid Boss Fans' Sories

Sebelum Anda terlanjur menyesal membeli buku ini, lalu menimpukkannya ke muka tetangga, maka alangkah baenya klo Anda menyempat diri untuk membaca Woro-woro ala kadarnya ini. Agar Anda tak ‘malu tertanya sesat di busway’ dan mengalami ‘besar pasar daripada mal’, maka alangkah eloknya klo Anda mampir membaca sejenis pengumuman yang ditempel di alun-alun ini.

Ini Buku Apaan Seh?
Pertama-tama, pahamilah bahwa ini bukan buku Sejarah—jelas ntuh! Apalagi bahan pelajaran yang akan nongol di UN. Ini juga bukan buku Ekonomi, baik Ekonomi Kerakyatan maupun Ekonomi Neoseleb—yep, benul benul benul! Pastinya pula, ini bukan buku Managemen—jauh, jauh mahhh. Buku ini juga jangan disangka buku Psikologi—ya…iyalah! Dan yang boleh diyakini, ini bukan buku Politik—yee, siapa juga yang bilang gitu! Begitu juga apabila ada yang bisik-bisik ngomong ini adalah buku Biografi atau Memoar, huss… jangan dipercaya gosip ini! Singkat kata, yang jelas, ini jelas-jelas bukan buku Kuliner—hoeks, kuliner apaan?

Terus, ini buku apaan dong? *Lah, kok malah balik nanya seh?!

Yang terbukti, ini adalah buku keroyokan. Ibarat pilem drama, ini jenis drama kolosal. Rame-rame, gitu. Kayak maling ayam yang butuh orang sekampoeng bwat ditabokin. Buku ini juga disusun berdasarkan partisipasi banyak orang. Hm, kayak anak Esde sekian kelas setiap tahunnya diminta bikin karangan “Berlibur ke Rumah Nenek” (padahal nenek sebagian anak Indonesia dah tinggal di apartemen). Jadi, harus diapresiasi bahwa buku ini disiapkan oleh banyak orang sekampoeng. Kayak ibu-ibu PKK yang lagi bikin hajatan. Atau, ibarat segerombolan chef alias tukang masak yang sedang menyiapkan makanan kolosal untuk pemecahan rekor dunia. Dan, alhasil… buku ini dipersembahkan bagi lebih banyak orang lagi—tentu saja bagi yang sudi membacanya.

Karena ini buku dengan spesies yang enggak jelas-jelas amat gitu, maka izinkanlah kami menyebutnya sebagai sebuah buku hip-hip huray-huray. Buku yang ‘menyelenggarakan’ festival keriangan hati, yang pada setiap halamannya menghadirkan jingkrak-jingkrak meringankan beban hidup. Bahasa keren versi generasi aL4y, ini adalah buku curcol. Lengkapnya, Ensiklopedi Curcol Nasional. Buku enggak ilmiah pertama yang perlu dikoleksi oleh pihak perpustakaan Departemen HRD/Personalia yang baik dan benar.

Buku yang Tak Layak Dibaca Serius
Jadi, abis gelap teranglah kini bahwa ini jenis buku yang tak layak diresensi oleh jurnal ilmiah dari negara maju manapun. Juga bukan sejenis buku yang bisa diangkat menjadi tema utama Simposium Internasional Antarbangsa, yang mendatangkan narasumber para pakar geologi, ahli-ahli fengshui & perjodohan, atau professor-professor penerima Hadiah Nobel Kimia & Fisika.

Sebagaimana sudah disinggung di atas, pretensi buku ini adalah menjadi buku enterteinmen. Merayakan Kegembiraan. Sebuah Kitab yang ingin menghibur hati setiap pembacanya, sebagai media rileksasi dan pileksasi—membuat rileks karena menghibur, membuat pilek karena terharu. Melalui buku ini, para penyumbang cerita ingin membanyol dan sekaligus mendapatkan kenyataan terhibur olehnya. Tak ada pretensi lain di luar itu.

Jadi, apabila Anda membacanya dengan serius, misalnya dengan tujuan untuk mencari ‘kata-kata mutiara’ yang dibudidayakan di lautan aksara ini, maka, maaf, Anda akan kecewa. Sampai detik-detik terakhir, tak ada seekor kerang pun yang sudi diajak berbudidaya di sini. Begitu juga, apabila Anda membacanya dengan dahi mengernyit, misalnya dengan tujuan untuk mendapatkan dalil-dalil hukum untuk menjerat Markus dkk, maka, maaf, Anda akan kecewa. Di hutan kata-kata dalam buku ini, Anda hanya akan menemukan monyet-monyet lucu yang bergelantungan riang karena mereka sedang bersukacita. Tak ada fatwa legal. Dan terakhir, apabila Anda membeli buku ini dan berharap mencari resep masakan yahud untuk awet karier, so pasti ngana bakal kuciwa. Semua chef beken di negeri ini, tak sudi menyisipkan menu-menu andalan mereka.

Jadi, percayalah, bahwa buku ini sepenuhnya didedikasikan untuk menghibur hati dan meringan beban hidup setiap insan kesayangan Tuhan yang diminta-Nya untuk berkarya melalui berbagai profesi di berbagai bidang yang sesuai maupun tak sesuai dengan bidang studinya. Just itu. Tak plus dan tak minus. Pas begitu, tak ada diskon.

Buku yang "Go global in gombal going go go go!"
Oya! Buku ini disusun sepenuhnya berdasarkan kontribusi banyak insan. Pertama, para pencetus ide, yang datang dari berbagai kalangan, tempat, dan ‘lain ladang lain belalang’nya. Kedua, juru masak, chef, atau host buku ini, yaitu Mbak Kerani—yang rela dipakein celemek dan dijorokin ke depan kompor untuk ‘memasak’ semua ‘buih-buih bualan’ dari berbagai ruang kerja.

Para kontributor kisah dalam buku ini, telah berjasa menyumbangkan goresan-goresan tangannya, yang kami apresiasi sebagai pahlawan pencetus ide. Mereka adalah orang-orang yang, dengan tanpa pamrih dan pamer, telah menyediakan bahan ‘masakan’ yang tak terkiranya nilainya, sehingga buku ini mampu menampilkan berbagai dimensi ke9ok1Lan dunia kerja. Sementara Mbak Kerani, sebagai chef yang baik dan benar, mengemban tanggung jawab mulia meramu, mengolah, memasak, atau menggodoknya walopun tidak masuk tipi kayak Farah Quin. Di dapurnya, ada butir-butir beras, sekian ikat sayu-mayur dari berbagai ladang, berkilo-kilo daging empuk yang layak di-yummy-kan, plus banyak bahan lainnya. Semua itu, ditata kelola dengan gulai-gemulai oleh jari-jemari Mbak Kerani hingga menjadi sajian maknyoss untuk perjamuan besar di meja istana pembaca—menjadi hidangan pesta pora semalam suntuk bagi kita semua.

Untuk itu, sungguh ter-la-lu kalau kami tidak berterima kasih kepada para penyumbang cerita. Membaca kisah-kisah Anda, tak seorang pun yang tak akan berseru: Menakjubkan! Tanpa kiriman bahan-bahan dari Anda, tak seorang chef pun yang mampu meraciknya menjadi hidangan. Sementara itu, ucapan terima kasih selanjutnya, ditujukan kepada Mbak Kerani. Mbak bukan hanya layak mendapat gelar ‘Chef’ terbaik di semenanjung Asia Tenggara; melainkan pula di belahan dunia mana pun, karena tema buku yang Anda usung ini berkaliber internasional, go global in gombal going go go go…! (Maaf, kalimat terakhir ini hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang cergas—cerdas dan tangkas). Selain itu, yang paling Amazing, buku ini Anda siapkan di tengah-tengah pergulatan mengenai kesehatan serta kedukaan karena ditinggal oleh orang yang Anda kasihi.

Kesimpulannya, sepuluh jempol untuk Anda semua! (rincian lebih lanjut: 2 jempol tangan, 2 jempol kaki, 4 jempol gukguk tersayang peliharaan saya, serta 2 jempol pinjaman tetangga).

Alhasil, Sekapur Barus ini harus segera ditamatkan, sebelum teriakan ‘huuuhhh’ dan lemparan botol minuman melayang ke arah kami. So, bye bye.… Kami ucapkan, Selamat Membaca. Pesan Tantri si vokalis grup band Kotak, pelan-pelan saja…. Dus, jangan keras-keras ya… karena akan mengganggu organ pendengaran tetangga Anda serta lambung pencernaan Anda sendiri.

Kalau ada sumur di ladang,
Bolehlah kita numpang mandi.
Kalau ada semur di jengkol,
Bolehlah kamu numpang makan.
~red